husni tamrin
Thursday, February 14, 2019
Menggapai Kehidupan Seimbang
๐ฒPersatuan Muballigh Batam (PMB)๐ณ♀
Kec.Batu Ampar
Tema Khutbah Jum’at:
*MENGGAPAI KEHIDUPAN SEIMBANG*
Oleh:Alfakir"
Husni Thamrin, S.Pd.I"
ุฅَّู ุงْูุญَู ْุฏَ َِِّููู َูุญْู َุฏُُู ََููุณْุชَุนُُِููู ََููุณْุชَุบِْูุฑُُู ََููุนُูุฐُ ุจِุงَِّููู ู ِْู ุดُุฑُูุฑِ ุฃَُْููุณَِูุง َูู ِْู ุณَِّูุฆَุงุชِ ุฃَุนْู َุงَِููุง ู َْู َْููุฏِِู ุงَُّููู ََููุง ู ُุถَِّู َُูู َูู َْู ُูุถِْْูู ََููุง َูุงุฏَِู َُูู َูุฃَุดَْูุฏُ ุฃَْู َูุง ุฅََِูู ุฅَِّูุง ุงَُّููู َูุญْุฏَُู َูุง ุดَุฑَِูู َُูู َู ุฃَุดَْูุฏُ ุฃََّู ู ُุญَู َّุฏًุง ุนَุจْุฏُُู َูุฑَุณُُُููู
ุงََُّูููู َّ ุตَِّู َูุณَِّูู ْ َูุจَุงุฑِْู ุนََูู ู ُุญَู َّุฏٍ َูุนََูู ุขِِูู َูุตَุญْุจِِู َูู َِู ุงْูุชَุฏَู ุจُِูุฏَุงُู ุฅَِูู َْููู ِ ุงَِْูููุงู َุฉِ
َูุง ุฃََُّููุง ุงَّูุฐَِูู ุขู َُููุงْ ุงุชَُّููุงْ ุงَّููู ุญََّู ุชَُูุงุชِِู َููุงَ ุชَู ُูุชَُّู ุฅِูุงَّ َูุฃَูุชُู ู ُّุณِْูู َُูู.
َูุง ุฃََُّููุง ุงَّููุงุณُ ุงุชَُّููุงْ ุฑَุจَُّูู ُ ุงَّูุฐِู ุฎَََُูููู ู ِّู َّْููุณٍ َูุงุญِุฏَุฉٍ َูุฎَََูู ู َِْููุง ุฒَْูุฌََูุง َูุจَุซَّ ู ُِْููู َุง ุฑِุฌَุงูุงً َูุซِูุฑุงً َِููุณَุงุก َูุงุชَُّููุงْ ุงَّููู ุงَّูุฐِู ุชَุณَุงุกَُููู ุจِِู َูุงูุฃَุฑْุญَุงู َ ุฅَِّู ุงَّููู َูุงَู ุนََُْูููู ْ ุฑَِููุจุงً.
َูุง ุฃََُّููุง ุงَّูุฐَِูู ุขู َُููุง ุงุชَُّููุง ุงََّููู َُُูููููุง َْูููุงً ุณَุฏِูุฏุงً . ُูุตِْูุญْ َُููู ْ ุฃَุนْู َุงَُููู ْ ََููุบِْูุฑْ َُููู ْ ุฐُُููุจَُูู ْ َูู َู ُูุทِุนْ ุงََّููู َูุฑَุณَُُููู ََููุฏْ َูุงุฒَ َْููุฒุงً ุนَุธِูู ุงً
ุฃู ุง ุจุนุฏ
Hadirin jamaah Jumat yang dirahmati Allah!
Allah SWT telah memberikan nikmat kepada kitta semua., sebagai wujud rasa sayang-Nya kepada kita , kenikmatan yang sangat banyak, dan bermacam – macam, sehingga kita tidak akan mampu menghitung, sebagaomana firman-Nya,
َูุฅِْู ุชَุนُุฏُّْูุง ِูุนْู َุฉَ ุงِููู َูุง ุชُุญْุตَُْููุง ุฅَِّู ุงَููู َูุบٌَْููุฑٌ ุฑَุญِْูู ٌ
“Jika kalian menghitung-hitung nikmat Allah, niscaya kalian tidak akan mampu menghitungnya. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. An-Nahl: 18).
Marilah kita mencoba merenung, agar kehidupan kita tidak hambar dan penuh kebosanan, yang selanjutnya kita benar-benar merasakan kasih sayang Allah SWT ketika kita sehat., kiita dapat bekerja dan berpikir ini merupakan nikmat Allah Subhaanahu wa Ta’ala.
Organ tubuh kita bekerja dengan dinamis dan saling bersinergi, tidak lain semua itu adalah nikmat Allah yang Dia anugerahkan kepada hamba-hamba-Nya.Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada Nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, beserta keluarga, sahabat dan pengikutnya hingga akhir zaman.
Hadirin sidang jum’at yang berbahagia !
Marilah kita mengajak diri kita pribadi dan jamaah sekalian, untuk senantiasa meningkatkan ketakwaan kita kepada Allah SWT, karena ketakwaanlah barpmeter kebaikan seorang hamba di sisi Allah. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,
ุฅَِّู ุฃَْูุฑَู َُูู ْ ุนِْูุฏَ ุงَِّููู ุฃَุชَْูุงُูู ْ
“Sesungguhnya orang yang paling mulia di sisi Allah diantara kalian adalah orang yang paling bertakwa…” (QS. Al-Hujurat: 13)
Hadirin jamaah Jumat yang berbahagia !
Allah Subhanahu wa Ta’ala telah membuat perumpamaan-perumpamaan dan menceritakan kisah-kisah umat terdahulu di dalam Al-Qur`an agar kita mudah dalam mengambil pelajaran.
Di antara kisah yang Allah firmankan kepada kita adalah kisah Qarun, seseorang yang kaya raya dalam kehidupan dunianya, namun seseorang yang sombong dan tidak memikirkan tentang akhiratnya akhirnya ia pun merugi di akhirat kelak.
Dalam rangkaian kisah Qarun di dalam surat Al-Qashash, Allah hendak mengajarkan kepada kita bagaimana semestinya seseorang menyeimbangkan kehidupan dunia dan akhiratnya. Allah berfirman,
َูุงุจْุชَุบِ ِููู َุง ุขุชَุงَู ุงَُّููู ุงูุฏَّุงุฑَ ุงْูุขุฎِุฑَุฉَ ََููุง ุชَูุณَ َูุตِูุจََู ู َِู ุงูุฏَُّْููุง َูุฃَุญْุณِู َูู َุง ุฃَุญْุณََู ุงَُّููู ุฅََِْููู ََููุง ุชَุจْุบِ ุงَْููุณَุงุฏَ ِูู ุงْูุฃَุฑْุถِ ุฅَِّู ุงََّููู َูุง ُูุญِุจُّ ุงْูู ُْูุณِุฏَِูู
“Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan.” (QS. Al-Qashash: 77)
Ayat ini menjelaskan prinsip yang agung, bagaimana hendaknya seseorang menyelaraskan antara kehidupan dunia dan akhiratnya.
Setidaknya ada empat poin dari ayat ini yang bisa kita jadikan prinsip dalam mengarungi kehidupan dunia.
Pertama, “Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat.”
Wasiat yang pertama yang disampaikan oleh Allah SWT bagaimana hendaknya seseorang menjalani kehidupannya di dunia ini adalah dengan mengejar akhirat mereka. Mengapa?
Karena akhirat adalah negeri yang abadi, tempat manusia kembali. Siapa saja yang ingin menggapai akhirat, maka akan mempersiapkan amal sholeh, agar tidak menyesal di akhirat kelak, dan sebaliknya, penderitaan hidup didalam penderitaan yang tiada hentinya akan dirasakan, apabila manusia habiskan dunia mereka dengan berfoya-foya dan berhura-hura yang hanya sebentar saja.Allah Subhanahu wa Ta’ala menjelaskan perbandingan masa waktu antara dunia dan akhirat, Dia berfirman,
َูุฅَِّู َْููู ًุง ุนِْูุฏَ ุฑَุจَِّู َูุฃَِْูู ุณََูุฉٍ ู ِู َّุง ุชَุนُุฏَُّูู
“Sesungguhnya satu hari di sisi Rabb kalian adalah seperti seribu tahun dalam perhitungan kalian.” (QS. Al-Hajj: 47)
Hadirin yang dirahmati Allah !
Betapa sedikitnya, betapa pendeknya usia kita di dunia! Lalu apakah kita akan korbankan kesenangan yang fana di dunia dengan penderitaan yang tidak ada habisnya di akhirat kelak. Atau relakah kita berletih dan berpeluh di kehidupan dunia ini, menahan syahwat kita, menahan hawa nafsu kita, untuk menyongsong kebahagian yang kekal abadi di akhirat nanti. Tidak hanya dalam perbandingan waktu, dalam skala perbandingan kenikmatan pun kehidupan dunia ini tidak bisa dibandingkan dengan kehidupan di akhirat sana. Rasulullah SAW, bersabda,
ุฃَุนْุฏَุฏْุชُ ِูุนِุจَุงุฏَِู ุงูุตَّุงِูุญَِْูู ู َุง َูุง ุนٌَْูู ุฑَุฃَุชْ ََููุง ุฃُุฐٌُู ุณَู ِุนَุชْ ََููุง ุฎَุทَุฑَ ุนََูู َْููุจِ ุจَุดَุฑٍ. َِููู ุจَุนْุถِ ุฑَِูุงَูุงุชِِู: ََููุง َูุนَْูู ُُู ู ٌََูู ู ٌَูุฑَّุจٌ ََููุง َูุจٌِู ู ُุฑْุณٌَู.
“Aku telah siapkan bagi hamba-hamba-Ku yang shalih sesuatu yang (kenikmatannya) tidak pernah dilihat oleh mata, tidak pernah didengar oleh telinga, dan juga tidak pernah terbetik dalam hati manusia.” Dalam suatu riwayat: “Dan juga tidak diketahui oleh malaikat yang dekat (di sisi Allah) juga para nabi yang diutus.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Alangkah ruginya dan nistanya kita , jika hidup kita hanya untuk menjemput dunia tanpa peduli dengan akhirat kita. Demi dunia yang sedikit saja, orang-orang rela menghabiskan waktu mereka dan mereka pun hanya mendapatkan sebagian kecil dari harta dunia. Marilah kita kejar akhirat insya Allah, dunia pasti dapat dan kita tidak menyesal.
Kaum muslimin yang dirahmati Allah.
Kedua, “dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi”
Mengapa Allah memerintahkan manusia yang memang sudah tabiatnya mencintai dunia untuk menjemput kehidupan dunia? Bukankah ini perintah yang sia-sia? Seorang hamba Allah SWT harus dapat berbuat adil, jangan sampai ibadah yang semestinya dapat membuat keluarga sakinah menjadi sia-sia karena tidak memperhatikan kehidupan dunia, anak istri kelaparan misalnya. Nabi Muhammad SAW. Sangat tekun beribadah , tetapi beliau juga berdagang inilah contoh yang sederhana.
Ketiga, “berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik, kepadamu”
Allah SWT memperingatkan Qarun yang telah Allah perlakukan dengan baik, Allah anugerahkan dia harta yang melimpah yang disebutkan di ayat sebelumnya bahwa kunci-kunci perbendaharaan harta Qarun di pikul oleh orang-orang yang kuat. Namun apa yang diperbuat oleh Qarun? Ia malah berlaku sombong enggan berbuat baik dengan cara mensyukuri nikmat Allah Subhaanahu wa ta’ala dan taat kepada-Nya. Lalu Allah tenggelamkan ia bersama harta-hartanya ke dalam perut bumi.
Hadirin yang dirahmati Allah!
Apabila kita mendapatkan kebaikan dari seseorang, maka orang tersebut sangat layak mendapatkan kebaikan dari kita. Bagaimana pula dengan Allah Subhanahu wa Ta’ala yang telah menganugerahkan kenikmatan yang tidak terhitung kepada kita? Walaupun anugerah Allah tersebut jumlahnya sedikit menurut kaca mata materi kebutuhan kita, maka tetaplah kita syukuri karena seseorang tidak akan bersyukur terhadap sesuatu yang banyak apabila ia tidak belajar mensyukuri sesuatu yang sedikit.Demikian khotbah Jum`at yang khatib dapat sampaikan semoga bermanfaat.Aamiin
ุฃَُُْููู َِْูููู َูุฐَุง، َูุฃَุณْุชَุบِْูุฑُُู ุงูุนَุธِْูู َ ุงูุฌََِْููู ِْูู ََُูููู ْ، َِููุฌَู ِْูุนِ ุงูู ُุณِْูู َِْูู ู ِْู ُِّูู ุฐَْูุจٍ، َูุงุณْุชَุบِْูุฑُُْูู؛ ุฅَُِّูู َُูู ุงูุบَُْููุฑُ ุงูุฑَุญِْูู ُ
๐Khutbah Kedua Tiap-tiap Jum'at๐ณ
ุงَْูุญَู ْุฏُ ููู ุญَู ْุฏًุง َูุซِْูุฑًุง َูู َุง ุงَู َุฑَ. ุงَุดَْูุฏُ ุงَْู َูุง ุงََِูู ุงَِّูุง ุงููู َูุญْุฏَُู َูุง ุดَุฑَِْูู َُูู ุงِุฑْุบَุงู ًุง ِูู َْู ุฌَุญَุฏَ َู ََููุฑَ. َู ุงَุดَْูุฏُ ุงََّู ู ُุญَู َّุฏًุง ุนَุจْุฏُُู َู ุฑَุณُُُْููู َู ุญَุจِْูุจُُู َู ุฎَُُِْูููู ุณَِّูุฏُ ุงْูุฅِْูุณِ َู ุงْูุจَุดَุฑِ. ุงََُّูููู َّ ุตَِّู َู ุณَِّูู ْ َู ุจَุงุฑِْู ุนََูู ู ُุญَู َّุฏٍ َู ุนََูู ุงَِِูู َู ุงَุตْุญَุงุจِِู َู ุณََّูู َ ุชَุณِْْููู ًุง َูุซِْูุฑًุง.
ุงَู َّุง ุจَุนْุฏُ، ََููุง ุนِุจَุงุฏَ ุงููู ุงِุชَُّْููุง ุงููู َู ุงุนَْูู ُْูุง ุงََّู ุงููู ُูุญِุจُّ ู ََูุงุฑِู َ ุงْูุฃُู ُْูุฑِ َู َْููุฑَُู ุณََูุงุณََِููุง ُูุญِุจُّ ู ِْู ุนِุจَุงุฏِِู ุงَْู َُُّْْูููููุง ِูู ุชَْูู ِِْูู ุงِุณَْูุงู ِِู َู ุงِْูู َุงِِูู َู ุงَُِّูู َูุง َْููุฏِู ุงَْْูููู َ ุงَْููุงุณَِِْููู. ุงََُّูููู َّ ุตَِّู َู ุณَِّูู ْ َู ุจَุงุฑِْู ุนََูู ู ُุญَู َّุฏٍ َู ุนََูู ุงَِู ู ُุญَู َّุฏٍ َูู َุง ุตََّْููุชَ َู ุณََّูู ْุชَ َู ุจَุงุฑَْูุชَ ุนََูู ุงِุจْุฑَุงِْููู َ َู ุนََูู ุงَِู ุงِุจْุฑَุงِْููู َ ِูู ุงْูุนَุงَูู َِْูู ุงََِّูู ุญَู ِْูุฏٌ ู َุฌِْูุฏٌ. ุงََُّูููู َّ ุงุบِْูุฑْ ِْููู ُุคْู َِِْููู َู ุงْูู ُุคْู َِูุงุชِ َู ุงْูู ُุณِْูู َِْูู َู ุงْูู ُุณِْูู َุงุชِ ุงَْูุฃَุญَْูุงุกِ ู ُِْููู ْ َู ุงْูุฃَู َْูุงุชِ ุงََِّูู ุณَู ِْูุนٌ َูุฑِْูุจٌ ู ُุฌِْูุจُ ุงูุฏَّุนَْูุงุชِ َู َูุงุถَِู ุงْูุญَุงุฌَุงุชِ. ุงََُّูููู َّ ุฑَุจََّูุง َูุง ุชُุฒِุบْ ُُْูููุจََูุง ุจَุนْุฏَ ุงِุฐَْูุฏَْูุชََูุง َู َูุจََْููุง ู ِْู َูุฏَُْูู ุฑَุญْู َุฉً ุงََِّูู ุงَْูุชَ ุงََّْูููุงุจُ. ุฑَุจََّูุง َูุง ุชَุฌْุนَْู ِูู ُُْูููุจََูุง ุบًِّูุง َِّููุฐَِْูู ุงَู َُْููุง ุฑَุจََّูุง ุงََِّูู ุฑَุคٌُْูู ุฑَّุญِْูู ٌ. ุฑَุจََّูุง َูุจََْููุง ู ِْู ุงَุฒَْูุงุฌَِูุง َู ุฐُุฑَِّّูุชَِูุง ُูุฑَّุฉَ ุงَุนٍُْูู َู ุงุฌْุนََْููุง ِْููู ُุชََِّْููู ุงِู َุงู ًุง. ุฑَุจََّูุง ุงَุชَِูุง ِูู ุงูุฏَُّْููุง ุญَุณََูุฉً َู ِูู ุงْูุขุฎِุฑَุฉِ ุญَุณََูุฉً َู َِููุง ุนَุฐَุงุจَ ุงَّููุงุฑِ.
ุนِุจَุงุฏَ ุงููู! ุงَِّู ุงููู َูุฃْู ُุฑُ ุจِุงْูุนَุฏِْู َู ุงْูุฅِุญْุณَุงِู َู ุงِْูุชَุงุกِ ุฐِู ุงُْููุฑْุจَู َู ََْูููู ุนَِู ุงَْููุญْุดَุงุกِ َู ุงْูู َُْููุฑِ َู ุงْูุจَุบِْู َูุนِุธُُูู ْ َูุนََُّููู ْ ุชَุฐََّّูุฑَُْูู َูุงุฐُْูุฑُْูุง ุงููู ุงْูุนَุธِْูู َ َูุฐُْูุฑُْูู ْ َู ุงุดُْูุฑُُْูู ุนََูู ِูุนَู ِِู َูุฒِุฏُْูู ْ َู َูุฐِْูุฑُ ุงِููู ุงَْูุจَุฑُ َู ุงُููู َูุนَْูู ُ ู َุง ุชَุตَْูุนَُْูู .
Kec.Batu Ampar
Tema Khutbah Jum’at:
*MENGGAPAI KEHIDUPAN SEIMBANG*
Oleh:Alfakir"
Husni Thamrin, S.Pd.I"
ุฅَّู ุงْูุญَู ْุฏَ َِِّููู َูุญْู َุฏُُู ََููุณْุชَุนُُِููู ََููุณْุชَุบِْูุฑُُู ََููุนُูุฐُ ุจِุงَِّููู ู ِْู ุดُุฑُูุฑِ ุฃَُْููุณَِูุง َูู ِْู ุณَِّูุฆَุงุชِ ุฃَุนْู َุงَِููุง ู َْู َْููุฏِِู ุงَُّููู ََููุง ู ُุถَِّู َُูู َูู َْู ُูุถِْْูู ََููุง َูุงุฏَِู َُูู َูุฃَุดَْูุฏُ ุฃَْู َูุง ุฅََِูู ุฅَِّูุง ุงَُّููู َูุญْุฏَُู َูุง ุดَุฑَِูู َُูู َู ุฃَุดَْูุฏُ ุฃََّู ู ُุญَู َّุฏًุง ุนَุจْุฏُُู َูุฑَุณُُُููู
ุงََُّูููู َّ ุตَِّู َูุณَِّูู ْ َูุจَุงุฑِْู ุนََูู ู ُุญَู َّุฏٍ َูุนََูู ุขِِูู َูุตَุญْุจِِู َูู َِู ุงْูุชَุฏَู ุจُِูุฏَุงُู ุฅَِูู َْููู ِ ุงَِْูููุงู َุฉِ
َูุง ุฃََُّููุง ุงَّูุฐَِูู ุขู َُููุงْ ุงุชَُّููุงْ ุงَّููู ุญََّู ุชَُูุงุชِِู َููุงَ ุชَู ُูุชَُّู ุฅِูุงَّ َูุฃَูุชُู ู ُّุณِْูู َُูู.
َูุง ุฃََُّููุง ุงَّููุงุณُ ุงุชَُّููุงْ ุฑَุจَُّูู ُ ุงَّูุฐِู ุฎَََُูููู ู ِّู َّْููุณٍ َูุงุญِุฏَุฉٍ َูุฎَََูู ู َِْููุง ุฒَْูุฌََูุง َูุจَุซَّ ู ُِْููู َุง ุฑِุฌَุงูุงً َูุซِูุฑุงً َِููุณَุงุก َูุงุชَُّููุงْ ุงَّููู ุงَّูุฐِู ุชَุณَุงุกَُููู ุจِِู َูุงูุฃَุฑْุญَุงู َ ุฅَِّู ุงَّููู َูุงَู ุนََُْูููู ْ ุฑَِููุจุงً.
َูุง ุฃََُّููุง ุงَّูุฐَِูู ุขู َُููุง ุงุชَُّููุง ุงََّููู َُُูููููุง َْูููุงً ุณَุฏِูุฏุงً . ُูุตِْูุญْ َُููู ْ ุฃَุนْู َุงَُููู ْ ََููุบِْูุฑْ َُููู ْ ุฐُُููุจَُูู ْ َูู َู ُูุทِุนْ ุงََّููู َูุฑَุณَُُููู ََููุฏْ َูุงุฒَ َْููุฒุงً ุนَุธِูู ุงً
ุฃู ุง ุจุนุฏ
Hadirin jamaah Jumat yang dirahmati Allah!
Allah SWT telah memberikan nikmat kepada kitta semua., sebagai wujud rasa sayang-Nya kepada kita , kenikmatan yang sangat banyak, dan bermacam – macam, sehingga kita tidak akan mampu menghitung, sebagaomana firman-Nya,
َูุฅِْู ุชَุนُุฏُّْูุง ِูุนْู َุฉَ ุงِููู َูุง ุชُุญْุตَُْููุง ุฅَِّู ุงَููู َูุบٌَْููุฑٌ ุฑَุญِْูู ٌ
“Jika kalian menghitung-hitung nikmat Allah, niscaya kalian tidak akan mampu menghitungnya. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. An-Nahl: 18).
Marilah kita mencoba merenung, agar kehidupan kita tidak hambar dan penuh kebosanan, yang selanjutnya kita benar-benar merasakan kasih sayang Allah SWT ketika kita sehat., kiita dapat bekerja dan berpikir ini merupakan nikmat Allah Subhaanahu wa Ta’ala.
Organ tubuh kita bekerja dengan dinamis dan saling bersinergi, tidak lain semua itu adalah nikmat Allah yang Dia anugerahkan kepada hamba-hamba-Nya.Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada Nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, beserta keluarga, sahabat dan pengikutnya hingga akhir zaman.
Hadirin sidang jum’at yang berbahagia !
Marilah kita mengajak diri kita pribadi dan jamaah sekalian, untuk senantiasa meningkatkan ketakwaan kita kepada Allah SWT, karena ketakwaanlah barpmeter kebaikan seorang hamba di sisi Allah. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,
ุฅَِّู ุฃَْูุฑَู َُูู ْ ุนِْูุฏَ ุงَِّููู ุฃَุชَْูุงُูู ْ
“Sesungguhnya orang yang paling mulia di sisi Allah diantara kalian adalah orang yang paling bertakwa…” (QS. Al-Hujurat: 13)
Hadirin jamaah Jumat yang berbahagia !
Allah Subhanahu wa Ta’ala telah membuat perumpamaan-perumpamaan dan menceritakan kisah-kisah umat terdahulu di dalam Al-Qur`an agar kita mudah dalam mengambil pelajaran.
Di antara kisah yang Allah firmankan kepada kita adalah kisah Qarun, seseorang yang kaya raya dalam kehidupan dunianya, namun seseorang yang sombong dan tidak memikirkan tentang akhiratnya akhirnya ia pun merugi di akhirat kelak.
Dalam rangkaian kisah Qarun di dalam surat Al-Qashash, Allah hendak mengajarkan kepada kita bagaimana semestinya seseorang menyeimbangkan kehidupan dunia dan akhiratnya. Allah berfirman,
َูุงุจْุชَุบِ ِููู َุง ุขุชَุงَู ุงَُّููู ุงูุฏَّุงุฑَ ุงْูุขุฎِุฑَุฉَ ََููุง ุชَูุณَ َูุตِูุจََู ู َِู ุงูุฏَُّْููุง َูุฃَุญْุณِู َูู َุง ุฃَุญْุณََู ุงَُّููู ุฅََِْููู ََููุง ุชَุจْุบِ ุงَْููุณَุงุฏَ ِูู ุงْูุฃَุฑْุถِ ุฅَِّู ุงََّููู َูุง ُูุญِุจُّ ุงْูู ُْูุณِุฏَِูู
“Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan.” (QS. Al-Qashash: 77)
Ayat ini menjelaskan prinsip yang agung, bagaimana hendaknya seseorang menyelaraskan antara kehidupan dunia dan akhiratnya.
Setidaknya ada empat poin dari ayat ini yang bisa kita jadikan prinsip dalam mengarungi kehidupan dunia.
Pertama, “Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat.”
Wasiat yang pertama yang disampaikan oleh Allah SWT bagaimana hendaknya seseorang menjalani kehidupannya di dunia ini adalah dengan mengejar akhirat mereka. Mengapa?
Karena akhirat adalah negeri yang abadi, tempat manusia kembali. Siapa saja yang ingin menggapai akhirat, maka akan mempersiapkan amal sholeh, agar tidak menyesal di akhirat kelak, dan sebaliknya, penderitaan hidup didalam penderitaan yang tiada hentinya akan dirasakan, apabila manusia habiskan dunia mereka dengan berfoya-foya dan berhura-hura yang hanya sebentar saja.Allah Subhanahu wa Ta’ala menjelaskan perbandingan masa waktu antara dunia dan akhirat, Dia berfirman,
َูุฅَِّู َْููู ًุง ุนِْูุฏَ ุฑَุจَِّู َูุฃَِْูู ุณََูุฉٍ ู ِู َّุง ุชَุนُุฏَُّูู
“Sesungguhnya satu hari di sisi Rabb kalian adalah seperti seribu tahun dalam perhitungan kalian.” (QS. Al-Hajj: 47)
Hadirin yang dirahmati Allah !
Betapa sedikitnya, betapa pendeknya usia kita di dunia! Lalu apakah kita akan korbankan kesenangan yang fana di dunia dengan penderitaan yang tidak ada habisnya di akhirat kelak. Atau relakah kita berletih dan berpeluh di kehidupan dunia ini, menahan syahwat kita, menahan hawa nafsu kita, untuk menyongsong kebahagian yang kekal abadi di akhirat nanti. Tidak hanya dalam perbandingan waktu, dalam skala perbandingan kenikmatan pun kehidupan dunia ini tidak bisa dibandingkan dengan kehidupan di akhirat sana. Rasulullah SAW, bersabda,
ุฃَุนْุฏَุฏْุชُ ِูุนِุจَุงุฏَِู ุงูุตَّุงِูุญَِْูู ู َุง َูุง ุนٌَْูู ุฑَุฃَุชْ ََููุง ุฃُุฐٌُู ุณَู ِุนَุชْ ََููุง ุฎَุทَุฑَ ุนََูู َْููุจِ ุจَุดَุฑٍ. َِููู ุจَุนْุถِ ุฑَِูุงَูุงุชِِู: ََููุง َูุนَْูู ُُู ู ٌََูู ู ٌَูุฑَّุจٌ ََููุง َูุจٌِู ู ُุฑْุณٌَู.
“Aku telah siapkan bagi hamba-hamba-Ku yang shalih sesuatu yang (kenikmatannya) tidak pernah dilihat oleh mata, tidak pernah didengar oleh telinga, dan juga tidak pernah terbetik dalam hati manusia.” Dalam suatu riwayat: “Dan juga tidak diketahui oleh malaikat yang dekat (di sisi Allah) juga para nabi yang diutus.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Alangkah ruginya dan nistanya kita , jika hidup kita hanya untuk menjemput dunia tanpa peduli dengan akhirat kita. Demi dunia yang sedikit saja, orang-orang rela menghabiskan waktu mereka dan mereka pun hanya mendapatkan sebagian kecil dari harta dunia. Marilah kita kejar akhirat insya Allah, dunia pasti dapat dan kita tidak menyesal.
Kaum muslimin yang dirahmati Allah.
Kedua, “dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi”
Mengapa Allah memerintahkan manusia yang memang sudah tabiatnya mencintai dunia untuk menjemput kehidupan dunia? Bukankah ini perintah yang sia-sia? Seorang hamba Allah SWT harus dapat berbuat adil, jangan sampai ibadah yang semestinya dapat membuat keluarga sakinah menjadi sia-sia karena tidak memperhatikan kehidupan dunia, anak istri kelaparan misalnya. Nabi Muhammad SAW. Sangat tekun beribadah , tetapi beliau juga berdagang inilah contoh yang sederhana.
Ketiga, “berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik, kepadamu”
Allah SWT memperingatkan Qarun yang telah Allah perlakukan dengan baik, Allah anugerahkan dia harta yang melimpah yang disebutkan di ayat sebelumnya bahwa kunci-kunci perbendaharaan harta Qarun di pikul oleh orang-orang yang kuat. Namun apa yang diperbuat oleh Qarun? Ia malah berlaku sombong enggan berbuat baik dengan cara mensyukuri nikmat Allah Subhaanahu wa ta’ala dan taat kepada-Nya. Lalu Allah tenggelamkan ia bersama harta-hartanya ke dalam perut bumi.
Hadirin yang dirahmati Allah!
Apabila kita mendapatkan kebaikan dari seseorang, maka orang tersebut sangat layak mendapatkan kebaikan dari kita. Bagaimana pula dengan Allah Subhanahu wa Ta’ala yang telah menganugerahkan kenikmatan yang tidak terhitung kepada kita? Walaupun anugerah Allah tersebut jumlahnya sedikit menurut kaca mata materi kebutuhan kita, maka tetaplah kita syukuri karena seseorang tidak akan bersyukur terhadap sesuatu yang banyak apabila ia tidak belajar mensyukuri sesuatu yang sedikit.Demikian khotbah Jum`at yang khatib dapat sampaikan semoga bermanfaat.Aamiin
ุฃَُُْููู َِْูููู َูุฐَุง، َูุฃَุณْุชَุบِْูุฑُُู ุงูุนَุธِْูู َ ุงูุฌََِْููู ِْูู ََُูููู ْ، َِููุฌَู ِْูุนِ ุงูู ُุณِْูู َِْูู ู ِْู ُِّูู ุฐَْูุจٍ، َูุงุณْุชَุบِْูุฑُُْูู؛ ุฅَُِّูู َُูู ุงูุบَُْููุฑُ ุงูุฑَุญِْูู ُ
๐Khutbah Kedua Tiap-tiap Jum'at๐ณ
ุงَْูุญَู ْุฏُ ููู ุญَู ْุฏًุง َูุซِْูุฑًุง َูู َุง ุงَู َุฑَ. ุงَุดَْูุฏُ ุงَْู َูุง ุงََِูู ุงَِّูุง ุงููู َูุญْุฏَُู َูุง ุดَุฑَِْูู َُูู ุงِุฑْุบَุงู ًุง ِูู َْู ุฌَุญَุฏَ َู ََููุฑَ. َู ุงَุดَْูุฏُ ุงََّู ู ُุญَู َّุฏًุง ุนَุจْุฏُُู َู ุฑَุณُُُْููู َู ุญَุจِْูุจُُู َู ุฎَُُِْูููู ุณَِّูุฏُ ุงْูุฅِْูุณِ َู ุงْูุจَุดَุฑِ. ุงََُّูููู َّ ุตَِّู َู ุณَِّูู ْ َู ุจَุงุฑِْู ุนََูู ู ُุญَู َّุฏٍ َู ุนََูู ุงَِِูู َู ุงَุตْุญَุงุจِِู َู ุณََّูู َ ุชَุณِْْููู ًุง َูุซِْูุฑًุง.
ุงَู َّุง ุจَุนْุฏُ، ََููุง ุนِุจَุงุฏَ ุงููู ุงِุชَُّْููุง ุงููู َู ุงุนَْูู ُْูุง ุงََّู ุงููู ُูุญِุจُّ ู ََูุงุฑِู َ ุงْูุฃُู ُْูุฑِ َู َْููุฑَُู ุณََูุงุณََِููุง ُูุญِุจُّ ู ِْู ุนِุจَุงุฏِِู ุงَْู َُُّْْูููููุง ِูู ุชَْูู ِِْูู ุงِุณَْูุงู ِِู َู ุงِْูู َุงِِูู َู ุงَُِّูู َูุง َْููุฏِู ุงَْْูููู َ ุงَْููุงุณَِِْููู. ุงََُّูููู َّ ุตَِّู َู ุณَِّูู ْ َู ุจَุงุฑِْู ุนََูู ู ُุญَู َّุฏٍ َู ุนََูู ุงَِู ู ُุญَู َّุฏٍ َูู َุง ุตََّْููุชَ َู ุณََّูู ْุชَ َู ุจَุงุฑَْูุชَ ุนََูู ุงِุจْุฑَุงِْููู َ َู ุนََูู ุงَِู ุงِุจْุฑَุงِْููู َ ِูู ุงْูุนَุงَูู َِْูู ุงََِّูู ุญَู ِْูุฏٌ ู َุฌِْูุฏٌ. ุงََُّูููู َّ ุงุบِْูุฑْ ِْููู ُุคْู َِِْููู َู ุงْูู ُุคْู َِูุงุชِ َู ุงْูู ُุณِْูู َِْูู َู ุงْูู ُุณِْูู َุงุชِ ุงَْูุฃَุญَْูุงุกِ ู ُِْููู ْ َู ุงْูุฃَู َْูุงุชِ ุงََِّูู ุณَู ِْูุนٌ َูุฑِْูุจٌ ู ُุฌِْูุจُ ุงูุฏَّุนَْูุงุชِ َู َูุงุถَِู ุงْูุญَุงุฌَุงุชِ. ุงََُّูููู َّ ุฑَุจََّูุง َูุง ุชُุฒِุบْ ُُْูููุจََูุง ุจَุนْุฏَ ุงِุฐَْูุฏَْูุชََูุง َู َูุจََْููุง ู ِْู َูุฏَُْูู ุฑَุญْู َุฉً ุงََِّูู ุงَْูุชَ ุงََّْูููุงุจُ. ุฑَุจََّูุง َูุง ุชَุฌْุนَْู ِูู ُُْูููุจََูุง ุบًِّูุง َِّููุฐَِْูู ุงَู َُْููุง ุฑَุจََّูุง ุงََِّูู ุฑَุคٌُْูู ุฑَّุญِْูู ٌ. ุฑَุจََّูุง َูุจََْููุง ู ِْู ุงَุฒَْูุงุฌَِูุง َู ุฐُุฑَِّّูุชَِูุง ُูุฑَّุฉَ ุงَุนٍُْูู َู ุงุฌْุนََْููุง ِْููู ُุชََِّْููู ุงِู َุงู ًุง. ุฑَุจََّูุง ุงَุชَِูุง ِูู ุงูุฏَُّْููุง ุญَุณََูุฉً َู ِูู ุงْูุขุฎِุฑَุฉِ ุญَุณََูุฉً َู َِููุง ุนَุฐَุงุจَ ุงَّููุงุฑِ.
ุนِุจَุงุฏَ ุงููู! ุงَِّู ุงููู َูุฃْู ُุฑُ ุจِุงْูุนَุฏِْู َู ุงْูุฅِุญْุณَุงِู َู ุงِْูุชَุงุกِ ุฐِู ุงُْููุฑْุจَู َู ََْูููู ุนَِู ุงَْููุญْุดَุงุกِ َู ุงْูู َُْููุฑِ َู ุงْูุจَุบِْู َูุนِุธُُูู ْ َูุนََُّููู ْ ุชَุฐََّّูุฑَُْูู َูุงุฐُْูุฑُْูุง ุงููู ุงْูุนَุธِْูู َ َูุฐُْูุฑُْูู ْ َู ุงุดُْูุฑُُْูู ุนََูู ِูุนَู ِِู َูุฒِุฏُْูู ْ َู َูุฐِْูุฑُ ุงِููู ุงَْูุจَุฑُ َู ุงُููู َูุนَْูู ُ ู َุง ุชَุตَْูุนَُْูู .
Thursday, January 31, 2019
Dakwah
BELAJAR ISLAM JALAN KEBENARAN
Menjadi Umat Terbaik dengan Amar Ma’ruf Nahi Mungkar
๐ณUst.Husni Thamrin Alhafidz,S.Pd.I
Pembahasan berikut adalah risalah ringkas dari Abul ‘Abbas Ibnu Taimiyah rahimahullah mengenai amar ma’ruf nahi munkar. Berikut penjelasan beliau rahimahullah:
Allah Ta’ala berfirman,
ُْููุชُู ْ ุฎَْูุฑَ ุฃُู َّุฉٍ ุฃُุฎْุฑِุฌَุชْ َِّูููุงุณِ ุชَุฃْู ُุฑَُูู ุจِุงْูู َุนْุฑُِูู َูุชَََْْูููู ุนَِู ุงْูู َُْููุฑِ َูุชُุคْู َُِููู ุจِุงَِّููู
“Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah.” (QS. Ali Imron: 110)
Sebagian ulama salaf mengatakan, “Mereka bisa menjadi umat terbaik jika mereka memenuhi syarat (yang disebutkan dalam ayat di atas). Siapa saja yang tidak memenuhi syarat di atas, maka dia bukanlah umat terbaik.”
Para salaf mengatakan, telah disepakati bahwa amar ma’ruf nahi munkar itu wajib bagi insan. Namun wajibnya adalah fardhu kifayah, hal ini sebagaimana jihad dan mempelajari ilmu tertentu serta yang lainnya. Yang dimaksud fardhu kifayah adalah jika sebagian telah memenuhi kewajiban ini, maka yang lain gugur kewajibannya. Walaupun pahalanya akan diraih oleh orang yang mengerjakannya, begitu pula oleh orang yang asalnya mampu namun saat itu tidak bisa untuk melakukan amar ma’ruf nahi mungkar yang diwajibkan. Jika ada orang yang ingin beramar ma’ruf nahi mungkar, wajib bagi yang lain untuk membantunya hingga maksudnya yang Allah dan Rasulnya perintahkan tercapai. Allah Ta’ala berfirman,
َูุชَุนَุงَُูููุง ุนََูู ุงْูุจِุฑِّ َูุงูุชََّْููู ََููุง ุชَุนَุงَُูููุง ุนََูู ุงْูุฅِุซْู ِ َูุงْูุนُุฏَْูุงِู
“Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan melampaui batas.” (QS. Al Maidah: 2)
Setiap rasul yang Allah utus dan setiap kitab yang Allah turunkan, semuanya mengajarkan amar ma’ruf nahi mungkar.
Yang dimaksud ma’ruf adalah segala istilah yang mencakup segala hal yang dicintai dan diridhoi oleh Allah.
Yang dimaksud munkar adalah segala istilah yang mencakup segala hal yang dibenci dan dimurkai oleh Allah.
Meninggalkan amar ma’ruf nahi munkar adalah sebab datangnya hukuman dunia sebelum hukuman di akhirat. Janganlah menyangka bahwa hukuman meninggalkan amar ma’ruf nahi munkar bukan hanya menimpa orang yang zholim dan pelaku maksiat, namun boleh jadi juga menimpa manusia secara keseluruhan.
Orang yang melakukan amar ma’ruf hendaklah orang yang faqih (paham) terhadap yang diperintahkan dan faqih (paham) terhadap yang dilarang. Begitu pula hendaklah dia halim (santun) terhadap yang diperintahkan, begitu pula terhadap yang dilarang. Hendaklah orang tersebut orang yang ‘alim terhadap apa yang ia perintahkan dan larang. Ketika dia melakukan amar ma’ruf nahi munkar, hendaklah ia bersikap lemah lembut terhadap apa yang ia perintahkan dan ia larang. Lalu ia harus halim dan bersabar setelah ia beramar ma’ruf nahi munkar. Sebagaimana Allah berfirman dalam kisah Luqman,
َูุฃْู ُุฑْ ุจِุงْูู َุนْุฑُِูู َูุงَْูู ุนَِู ุงْูู َُْููุฑِ َูุงุตْุจِุฑْ ุนََูู ู َุง ุฃَุตَุงุจََู ุฅَِّู ุฐََِูู ู ِْู ุนَุฒْู ِ ุงْูุฃُู ُูุฑِ
“Dan suruhlah (manusia) mengerjakan yang baik dan cegahlah (mereka) dari perbuatan yang mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah).” (QS. Luqman: 17)
Ketahuilah bahwa orang yang memerintahkan pada yang ma’ruf dan melarang dari yang munkar termasuk mujahid di jalan Allah. Jika dirinya disakiti atau hartanya dizholimi, hendaklah ia bersabar dan mengharap pahala di sisi Allah. Sebagaimana hal inilah yang harus dilakukan seorang mujahid pada jiwa dan hartanya. Hendaklah ia melakukan amar ma’ruf dan nahi munkar dalam rangka ibadah dan taat kepada Allah serta mengharap keselamatan dari siksa Allah, juga ingin menjadikan orang lain baik. Janganlah ia melakukan amar ma’ruf nahi munkar untuk tujuan mencari kedudukan mulia atau kekuasaan. Janganlah ia melakukannya karena bermusuhan atau benci di hatinya pada orang yang diajak amar ma’ruf nahi munkar. Janganlah ia melakukannya dengan tujuan-tujuan semacam ini.
Kadang memerintahkan pada yang kebaikan itu dengan cara yang baik dan tidak membawa dampak jelek. Kadang pula mencegah kemungkaran dilakukan dengan baik tanpa membawa dampak jelek. Sebaliknya jika menghilangkan kemungkaran malah dengan cara yang mungkar pula (bukan dengan cara yang baik), maka itu sama saja seseorang ingin mensucikan khomr (yang najis kata sebagian ulama, pen), dengan air kencing (yang najis pula, pen). Siapa yang melarang kemungkaran namun malah dengan yang mungkar, maka itu hanya membawa banyak kerusakan daripada mendapatkan keuntungan. Kadang kerugian itu sedikit atau banyak. Wallahu a’lam.
Menjadi Umat Terbaik dengan Amar Ma’ruf Nahi Mungkar
๐ณUst.Husni Thamrin Alhafidz,S.Pd.I
Pembahasan berikut adalah risalah ringkas dari Abul ‘Abbas Ibnu Taimiyah rahimahullah mengenai amar ma’ruf nahi munkar. Berikut penjelasan beliau rahimahullah:
Allah Ta’ala berfirman,
ُْููุชُู ْ ุฎَْูุฑَ ุฃُู َّุฉٍ ุฃُุฎْุฑِุฌَุชْ َِّูููุงุณِ ุชَุฃْู ُุฑَُูู ุจِุงْูู َุนْุฑُِูู َูุชَََْْูููู ุนَِู ุงْูู َُْููุฑِ َูุชُุคْู َُِููู ุจِุงَِّููู
“Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah.” (QS. Ali Imron: 110)
Sebagian ulama salaf mengatakan, “Mereka bisa menjadi umat terbaik jika mereka memenuhi syarat (yang disebutkan dalam ayat di atas). Siapa saja yang tidak memenuhi syarat di atas, maka dia bukanlah umat terbaik.”
Para salaf mengatakan, telah disepakati bahwa amar ma’ruf nahi munkar itu wajib bagi insan. Namun wajibnya adalah fardhu kifayah, hal ini sebagaimana jihad dan mempelajari ilmu tertentu serta yang lainnya. Yang dimaksud fardhu kifayah adalah jika sebagian telah memenuhi kewajiban ini, maka yang lain gugur kewajibannya. Walaupun pahalanya akan diraih oleh orang yang mengerjakannya, begitu pula oleh orang yang asalnya mampu namun saat itu tidak bisa untuk melakukan amar ma’ruf nahi mungkar yang diwajibkan. Jika ada orang yang ingin beramar ma’ruf nahi mungkar, wajib bagi yang lain untuk membantunya hingga maksudnya yang Allah dan Rasulnya perintahkan tercapai. Allah Ta’ala berfirman,
َูุชَุนَุงَُูููุง ุนََูู ุงْูุจِุฑِّ َูุงูุชََّْููู ََููุง ุชَุนَุงَُูููุง ุนََูู ุงْูุฅِุซْู ِ َูุงْูุนُุฏَْูุงِู
“Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan melampaui batas.” (QS. Al Maidah: 2)
Setiap rasul yang Allah utus dan setiap kitab yang Allah turunkan, semuanya mengajarkan amar ma’ruf nahi mungkar.
Yang dimaksud ma’ruf adalah segala istilah yang mencakup segala hal yang dicintai dan diridhoi oleh Allah.
Yang dimaksud munkar adalah segala istilah yang mencakup segala hal yang dibenci dan dimurkai oleh Allah.
Meninggalkan amar ma’ruf nahi munkar adalah sebab datangnya hukuman dunia sebelum hukuman di akhirat. Janganlah menyangka bahwa hukuman meninggalkan amar ma’ruf nahi munkar bukan hanya menimpa orang yang zholim dan pelaku maksiat, namun boleh jadi juga menimpa manusia secara keseluruhan.
Orang yang melakukan amar ma’ruf hendaklah orang yang faqih (paham) terhadap yang diperintahkan dan faqih (paham) terhadap yang dilarang. Begitu pula hendaklah dia halim (santun) terhadap yang diperintahkan, begitu pula terhadap yang dilarang. Hendaklah orang tersebut orang yang ‘alim terhadap apa yang ia perintahkan dan larang. Ketika dia melakukan amar ma’ruf nahi munkar, hendaklah ia bersikap lemah lembut terhadap apa yang ia perintahkan dan ia larang. Lalu ia harus halim dan bersabar setelah ia beramar ma’ruf nahi munkar. Sebagaimana Allah berfirman dalam kisah Luqman,
َูุฃْู ُุฑْ ุจِุงْูู َุนْุฑُِูู َูุงَْูู ุนَِู ุงْูู َُْููุฑِ َูุงุตْุจِุฑْ ุนََูู ู َุง ุฃَุตَุงุจََู ุฅَِّู ุฐََِูู ู ِْู ุนَุฒْู ِ ุงْูุฃُู ُูุฑِ
“Dan suruhlah (manusia) mengerjakan yang baik dan cegahlah (mereka) dari perbuatan yang mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah).” (QS. Luqman: 17)
Ketahuilah bahwa orang yang memerintahkan pada yang ma’ruf dan melarang dari yang munkar termasuk mujahid di jalan Allah. Jika dirinya disakiti atau hartanya dizholimi, hendaklah ia bersabar dan mengharap pahala di sisi Allah. Sebagaimana hal inilah yang harus dilakukan seorang mujahid pada jiwa dan hartanya. Hendaklah ia melakukan amar ma’ruf dan nahi munkar dalam rangka ibadah dan taat kepada Allah serta mengharap keselamatan dari siksa Allah, juga ingin menjadikan orang lain baik. Janganlah ia melakukan amar ma’ruf nahi munkar untuk tujuan mencari kedudukan mulia atau kekuasaan. Janganlah ia melakukannya karena bermusuhan atau benci di hatinya pada orang yang diajak amar ma’ruf nahi munkar. Janganlah ia melakukannya dengan tujuan-tujuan semacam ini.
Kadang memerintahkan pada yang kebaikan itu dengan cara yang baik dan tidak membawa dampak jelek. Kadang pula mencegah kemungkaran dilakukan dengan baik tanpa membawa dampak jelek. Sebaliknya jika menghilangkan kemungkaran malah dengan cara yang mungkar pula (bukan dengan cara yang baik), maka itu sama saja seseorang ingin mensucikan khomr (yang najis kata sebagian ulama, pen), dengan air kencing (yang najis pula, pen). Siapa yang melarang kemungkaran namun malah dengan yang mungkar, maka itu hanya membawa banyak kerusakan daripada mendapatkan keuntungan. Kadang kerugian itu sedikit atau banyak. Wallahu a’lam.
Wednesday, January 30, 2019
Renungan
_*Kalam Sufi...*_
_*Perjalanan menuju Allah adalah satu perjalanan yang sangat jauh. Sedangkan Allah itu maha hampir dengan kita. Yang jauh itu bukannya jarak, tapi hati kita yang jauh dari Nya.*_
_*Allah itu maha hampir kepada kita, tapi kita pula yang selalu menjauh dari Allah. Bagi yang cinta kepada Allah dia akan sentiasa mendekatkan diri kepada Nya, bagi yang tidak cintakan Allah dia tidak akan suka mendekat diri kepada Allah.*_
_*Jika kita tahu kita ini tidak mendekatkan diri kepada Allah, ketahuilah hati kita dah amat jauh dari Allah, ertinya kita hampir dengan syaitan dan nafsu kita.*_
_*Orang yang hampir dengan Allah dia tidak akan menderhakai Allah, orang yang menjauh dari Allah mereka akan hidup berpakaiankan dosa dan kemunkaran Nya.*_
_*Dekatkanlah diri kita kepada Allah, dengan sentiasa taat mengerjakan apa yang diperintah dan sentiasa taat menjauhkan apa yang ditegah, nescaya Allah akan hampir pada kita. Bila Allah hampir pada kita, syaitan pun akan menjauh dari kita.*_
Subscribe to:
Posts (Atom)





